Saturday, March 30, 2013

Memaknai Tradisi Cheng Beng di Cianjur

Dreamland Traveller


Memaknai Tradisi Cheng Beng di Cianjur
            Sebagai masyarakat keturunan Tionghua, keluarga Dreamland senantiasa melakukan Cheng Beng yang merupakan tradisi tahunan dari kepercayaan masyarakat Tionghua. Bertepatan dengan tanggal merah yang jatuh pada 29 Maret, keluarga Dreamland pun memutuskan melakukan tradisi ini ke Cianjur. Kebetulan makam leluhur keluarga Dreamland berada di Cianjur, sehingga Dreamland pun berangkat dari Bandung menuju Cianjur dengan mobil.
            Perjalanan ini bermula ketika orang tua Dreamland membeli berbagai macam kembang yang akan digunakan untuk ziarah. Setelah itu, Dreamland langsung berangkat ke Cianjur dan menempuh perjalanan selama kurang lebih 2,5 jam. Sesampainya di Cianjur, Dreamland langsung menuju daerah Pasir Hayam dan parkir di kompleks pemakaman Tionghua yang ada di sana. 
            Dreamland dan keluarga pun langsung menaiki bukit pemakaman untuk menuju makam leluhur yang dituju. Sesampainya di sana, belasan penunggu makam dan tukang bersih-bersih dengan sigap membersihkan makam yang kami tuju. Kami pun mulai melakukan ritual Cheng Beng ini dengan mengucapkan doa dan salam pada arwah leluhur yang sudah tiada. Selain itu, kami juga menaburkan bunga di atas pusara leluhur.
            Tradisi Cheng Beng ini umumnya dilakukan secara fleksibel sesuai dengan kepercayaan masing-masing keluarga Tionghua. Terkadang Cheng Beng dilakukan dengan membakar sejumlah kertas berhologram emas sebagai bekal untuk arwah leluhur yang ada di surga. Ada juga yang membakar mobil, baju, elektronik, dan peralatan lainnya yang berbahan dasar kertas sebagai peralatan yang dapat digunakan di dunia arwah. Namun tradisi ini kebanyakan hanya dilakukan oleh keluarga Tionghua yang masih sangat konvensional.
            Cheng Beng sendiri bermakna hari yang ditetapkan untuk mengingat dan menghormati nenek moyang. Terlepas dari dongeng yang mengisahkan arwah orang yang sudah meninggal hadir dan berkeliaran saat Cheng Beng saat kita sembahyang di makam, Cheng Beng sendiri sama seperti Tahun Baru Imlek. Semua anggota keluarga berkumpul bersama untuk mengenang orang tua yang sangat berjasa dalam hidup kita. Seberapa jauh kita menghargai atau mengenang leluhur yang sudah meninggal akan terlihat dari tradisi Cheng Beng ini.
            Deretan makam yang didesain sedemikian rupa itu terlihat tak terawat ditumbuhi rerumputan liar. Sampah dedaunan dan ranting pohon memenuhi setiap makam yang ada di Pasir Hayam. Terlihat bahwa semakin tidak terawat, rusak, dan kondisi makam yang memprihatinkan menunjukkan bahwa anak cucu leluhur tersebut sudah melupakan mereka. Berbeda dengan makam yang ditaburi bunga, kertas emas, dan dupa yang kondisinya bersih dan rapi, tanda bahwa anak cucu mereka masih setia mengenang jasa dan menghargai setiap usaha yang leluhur lakukan selama masih hidup.
            Fenomena ini juga sekaligus menegaskan bahwa kematian akan mendatangi setiap manusia yang ada di muka Bumi. Hanya saja, tidak ada seorang manusia pun yang tahu kapan akan dipanggil pulang oleh Sang Pencipta. Kita hanya bisa mempersiapkan diri sebaik mungkin, melakukan hal yang terbaik, dan tentunya berbuat baik pada semua orang agar kelak ketika waktu kita tiba, kita tidak perlu menyesali hidup kita. Justru orang lain yang akan menyesal mengapa semasa kita hidup justru mereka menyia-nyiakan kita.
            Sebagus dan semewah apapun makam yang kelak akan kita tempati, tubuh kita hanya menghabiskan maksimal 1 X 2 meter. Semasa kita hidup, kita harus sadar bahwa apa yang bisa manusia banggakan selain amal dan perbuatannya di dunia. Orang tidak akan melihat betapa kaya atau hebatnya kita saat hidup, melainkan apa saja yang sudah kita lakukan bagi orang di sekitar kita saat kita hidup di dunia ini. Toh pada akhir kehidupan, kita tidak akan membawa semua harta, gelar, kemampuan, dan apa yang kita miliki ke liang kubur. Yang tersisa hanyalah nama baik yang membuat orang masih mau mengingat dan menghidupkan nyawa kita kembali dalam benak orang yang mencintai kita.
            Tradisi Cheng Beng ini tentu sangat mengingatkan Dreamland akan makna kehidupan itu sendiri. Bahwa tidak ada manusia yang hidup abadi selamanya, sehingga kita perlu mempersiapkan diri tatkala kematian itu datang menghampiri kita, entah itu kapan waktunya. Dreamland pun mengakhiri perjalanan ini dengan pulang kembali ke Bandung melewati Tol Padalarang.

Cianjur, 29 Maret 2013

Dreamland Traveller

Catatan:
- Cianjur adalah kota kecil yang terletak di sebelah barat Kota Bandung.
- Perjalanan dari Bandung ke Cianjur dapat ditempuh 1,5 – 2 jam perjalanan dengan mobil.
- Tauco adalah makanan khas Cianjur yang wajib dicoba.
- Kompleks pemakaman Tionghua di Cianjur terletak di daerah Pasir Hayam.
- Bahasa Sunda adalah bahasa yang sering digunakan dalam percakapan sehari-hari orang Cianjur.

~ oOo ~

No comments:

Post a Comment

Terima kasih dan selamat datang di Dreamland Traveller! Komentar, saran, dan pertanyaan dapat dituliskan pada kolom komentar di bawah ini.