Friday, May 24, 2013

Dreamland Traveller Go To Ancient Destination!

Setelah mengunjungi berbagai destinasi menarik di kawasan Asia Tenggara, kini Dreamland akan mengunjungi sebuah tempat di kawasan Indochina yang sangat unik. Tempat yang dikenal dengan kemegahan candi Angkor Wat yang memukau, serta adanya saksi bisu peninggalan kekejaman Khmer Merah pada masa lampau. Nantikan perjalanan Dreamland Traveller dalam

Cambodia Trip, 25 Mei - 1 Juni 2013



Nantikan catatan perjalanan Dreamland Traveller hanya di Dreamland Traveller.

Sindrom Pertama Kali ke Luar Negeri

Dreamland Traveller Moment


Sindrom Pertama Kali ke Luar Negeri
            Bagi orang yang baru pertama kali ke luar negeri, rasa takut, cemas, bingung, khawatir, senang, bangga, dan lain sebagainya bercampur aduk menjadi satu. Pertanyaan-pertanyaan klasik, seperti mau makan apa, mau menginap di mana, mau melakukan apa saja, dan berbagai pertanyaan lainnya tentu berkecamuk dalam pikiran kita. Apalagi menjelang hari H keberangkatan ke luar negeri, hati menjadi deg-degan, tegang, dan rasa ingin tahu yang besar membuat kita sulit tidur. Pokoknya rasa antusiasme yang besar membuat kita jadi uring-uringan tidak jelas di rumah.
            Selain itu, kita juga akan sangat bersemangat packing barang bawaan jauh-jauh hari sebelum keberangkatan. Jika durasi bepergian memakan waktu 8 hari, maka pakaian yang dibawa pun 8 set. Koper pun diisi sepenuh-penuhnya. Sampai-sampai serasa ingin pindah rumah saja. Tak perlu jauh-jauh buat perempuan isi kopernya, antara lain gulungan rambut, kosmetik, spons mandi, sampai hair dryer pun dibawa! Buat cowok sih mungkin cenderung cuek jadi tidak terlihat terlalu ribet. Pokoknya semua disiapkan sedemikian rupa sampai-sampai koper yang dibawa sudah “hamil” sebelum waktunya.
            Beres dengan koper, giliran makanan yang dibawa. Snack, kue, biskuit, abon, dan lain sebagainya ikut dibawa dalam kantong plastik besar. Entah karena takut kelaparan, takut tidak bisa makan, atau bagaimana sampai-sampai makanan yang dibawa segunung. Belum lagi anak-anaknya, hampir semua gadget yang ada dibawanya. iPad, laptop, PS3, Samsung Galaxy, dan lain sebagainya menjadi teman hidupnya selama perjalanan. Entahlah apakah ingin menikmati gadgetnya atau menikmati jalan-jalannya. Hanya Tuhan dan dialah yang tahu.
            Uang yang dibawa pun tidak terkira jumlahnya. Tempat penukaran uang asing pasti sudah didatangi jauh-jauh hari sebelum keberangkatan. Kira-kira bawa uang segini cukup ga ya? Nanti beli apa saja di sana ya buat oleh-oleh si A – Z? Sampai-sampai uang yang ditukar mencapai nominal jutaan hingga belasan juta rupiah saking takutnya. Pokoknya hal-hal sekecil apapun diperhatikan sedetail mungkin agar liburan dapat berjalan lancar tanpa hambatan yang berarti.
            Menjelang hari H, biasanya daftar acara perjalanan (jika menggunakan jasa tur) atau itinerary yang dirancang sendiri (kalau bepergian sendiri) dibaca berulang kali. Lalu aktivitas googling pun dilakukan untuk melihat tempat-tempat yang dikunjungi sampai puluhan kali. Perasaan “aku bakal ke tempat itu” semakin kuat dan mulai keinginan untuk curcol semakin besar. Eh bentar lagi aku bakal ke tempat A lho, di sana ada B, C, dan D, dan blablabla… Pokoknya rasanya bangga banget baru pertama kali ke luar negeri rasanya begitu eksklusif dan unforgettable moment.
            Sampai waktunya berangkat, hati sudah senang tidak karuan. Ditambah jantung berdebar-debar antara penasaran. Di pesawat pun mata kita sulit terpejam dan begitu antusias melihat langit di angkasa. Sampai-sampai di lokasi wisata, rasa kagum yang berlebihan pun ditunjukkan, mulai dari potrat-potret di objek yang kurang begitu penting bagi orang setempat sampai kalimat yang terucap “Wow Singapore lebih bersih dari Indonesia ya. Pokoknya lebih bagus Singapore dari Indonesia deh.” Penilaian sepihak pun langsung dilakukan melihat keunggulan dari negeri yang dikunjungi.
            Begitu pergi ke tempat belanja langsung deh beli oleh-oleh seabrek buat si A – Z. Kuantitas barang yang dibeli pun dua digit supaya semua kebagian dari teman kerja sampai pegawai-pegawainya. Entah itu kaos, gantungan kunci, pulpen, dan lain sebagainya dibeli sampai ludes total. Selain itu, hampir ke semua tempat menggunakan taksi karena takut tersesat, meskipun harus dibayar dengan harga mahal. Akhirnya pada akhir perjalanan, masalah klasik yang muncul adalah koper kelebihan muatan, sehingga harus dikeluarkan atau menambah biaya agar bisa dibawa ke tanah air.
            Sepulang liburan, foto-foto hasil jalan-jalan langsung dicuci dan dibingkai sedemikian rupa sehingga terlihat bahwa kita sudah pernah menginjakkan kaki di tempat tersebut. Belum lagi asyik cerita-cerita ke kolega dan kasih oleh-oleh dari luar negeri sambil mengagung-agungkan keindahan yang ada di luar negeri sana dengan majas hiperbola. Pokoknya Indonesia mah seruas jari kelingkingnya negara X dalam hal kebersihan mah. Pokoknya semua kebanggaan itu tercurah dari dasar hati dan pikiran.
            Memang bepergian ke luar negeri adalah sebuah pengalaman yang luar biasa dan menakjubkan. Kita akan dibawa melihat suatu fenomena baru yang tidak pernah ditemukan di negara kita. Selain itu, kita akan merasakan bagaimana rasa dari makanan setempat, melihat wajah yang berbeda, serta budaya setempat yang unik dan menarik. Pokoknya kita akan banyak belajar dari keunggulan negara tersebut.
            Percaya atau tidak, kita harus bersyukur mengalami sindrom ini karena membuat perjalanan pertama kita ke luar negeri menjadi lebih berkesan dan istimewa. Pokoknya nikmatilah perjalanan yang ada karena kesempatan itu mungkin hanya datang satu kali. Nantikan Dreamland Traveller Moment selanjutnya yang membahas tentang sindrom sering bepergian ke luar negeri.

~ oOo ~

Monday, May 20, 2013

Sulitnya Bepergian ke Luar Negeri

Dreamland Traveller Moment


Sulitnya Bepergian ke Luar Negeri
            Waktu dulu, berwisata ke luar negeri boleh dikatakan hanya konsumsi kaum berpunya. Bagaimana tidak? Maskapai yang melayani penerbangan ke luar negeri hanyalah maskapai full service dengan harga selangit. Selain itu, penerbangan luar negeri pun sebagian besar terpusat di Jakarta, sehingga mau tidak mau kita harus pergi ke Bandara Soekarno-Hatta untuk melakukan perjalanan. 
            Pada tahun 2005, Dreamland dan keluarga berencana untuk berlibur ke Singapore. Pada waktu itu, Singapore masih menjadi destinasi wisata yang sangat mahal dan tidak terjangkau bagi masyarakat Indonesia. Dreamland harus pergi ke Bandara Soekarno-Hatta terlebih dahulu untuk mengambil penerbangan Jakarta – Batam dengan Lion Air. Setelah itu, dilanjutkan Batam – Singapore dengan ferry karena ongkosnya jauh lebih murah dibandingkan Jakarta – Singapore langsung.
            Semua tiket penerbangan pun dibeli via travel agent karena Dreamland saat itu masih gaptek internet, demikian pula dengan orang tua. Perjalanan pun terasa begitu lelah karena Dreamland harus menempuh perjalanan dari Jakarta ke Batam, setibanya di Bandara Hang Nadim, Dreamland harus langsung menuju ke pelabuhan untuk naik ferry ke Singapore. Sebelum naik ferry, Dreamland harus mengisi perut terlebih dahulu di gedung pelabuhan, sekaligus imigrasi, di mana harga makanannya amat sangat mahal!
            Perjalanan selama 3 jam ke Singapore pun terasa begitu membosankan. Terombang-ambing di laut yang berarus deras juga sempat membuat Dreamland mual. Akhirnya setibanya di Harbour Front Singapore, bencana lain pun menanti Dreamland dan keluarga. Berhubung baru pertama kali ke luar negeri dan tidak tahu apa-apa, akhirnya tertipulah Dreamland dan keluarga menaiki taksi gelap seharga 30 dollar Singapore (kurs waktu itu masih Rp 6.000,00). Huh, menyebalkan!
            Sesampainya di Singapore, Dreamland dan keluarga serba takut untuk jalan ke sana kemari karena belum fasih berbahasa Inggris. Bahkan Dreamland yang menginap di daerah Chinatown pun tidak tahu ada MRT di sana saking takutnya, sehingga pergi ke Pulau Sentosa saja menggunakan taksi. Dreamland terkagum saat mobil berhenti di zebra cross tatkala Dreamland sedang menyeberang jalan. Sangat tertib dan displin.
            Dari kisah ini, setidaknya pengalaman ke luar negeri waktu beberapa tahun yang lalu tidak semudah yang dibayangkan. Berbeda dengan sekarang, di mana penerbangan ke Singapore hampir ada di setiap kota besar di Indonesia. Kita hanya perlu berburu tiket murah dan langsung kita bisa terbang ke negara Singa itu tanpa harus melalui Batam terlebih dahulu. Perjuangan dan harga mahal menjadi konsumsi orang yang mau bepergian ke luar negeri 8 tahun yang lalu.
            Berbahagialah kita karena kehadiran maskapai low cost airlines membuat pergi ke luar negeri menjadi lebih mudah, murah, dan cepat. Maka dari itu, jangan ragu untuk pergi ke luar negeri sekarang karena jalan-jalan bukan lagi monopoli kaum berpunya.

~ oOo ~

Wednesday, May 15, 2013

Terkesima Pesona Pantai Belitung

Dreamland Traveller Moment


Terkesima Pesona Pantai Belitung
            Sebagai orang Indonesia, kita patut berbangga karena memiliki seribu satu keindahan alam yang tidak terlukiskan dari Sabang sampai Merauke. Pantai, gunung, bukit, laut, taman, hutan, dan lain sebagainya dapat kita temukan dengan mudah di setiap penjuru negara khatulistiwa ini. Hanya saja, kurangnya publikasi, promosi, serta perhatian pemerintah akan potensi alam Indonesia yang begitu tumpah ruah ini membuat kunjungan wisatawan asing ke Indonesia masih minim jika dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara lainnya.
            Salah satu keindahan alam yang luar biasa yang pernah Dreamland saksikan di Indonesia adalah Pantai Belitung. Wilayah kepulauan yang beribukota di Tanjung Pandan ini memang mempunyai eksotisme pantai yang luar biasa. Dengan bebatuan besar yang berjejer di pinggir pantai, pantai yang putih bersih, serta ketenangan ombak yang begitu teduh membuat Belitung sangat layak menjadi tempat relaksasi yang didambakan kita semua. Tak heran rasanya Pulau Belitung menjadi sangat ngetop setelah film Laskar Pelangi ditayangkan di Indonesia, di mana Andrea Hirata dilahirkan di sini mengingat keindahan alamnya yang luar biasa.
            Belitung mempunyai pantai yang masih perawan. Sangat jarang sekali wisatawan yang datang mengunjungi wilayah-wilayah yang ada didalamnya. Tak heran rasanya jika keaslian dan kebersihan alamnya terjaga dengan baik. Pantai Tanjung Tinggi, misalnya. Pantai yang berjarak 30 km dari pusat kota Tanjung Pandan ini membawa kita seolah berada di Phuket, Thailand. Pantai yang sangat putih, air yang berwarna biru kehijauan, serta batu granit yang gagah menghiasi keindahan pantai ini. 
            Dreamland juga sangat terpukau dengan keindahan pantai yang ada di depan hotel yang Dreamland tempati 6 tahun silam, yakni Hotel Lor In Belitung. Pantainya begitu tenang, teduh, dan memberikan sebuah relaksasi pikiran, tubuh, dan jiwa dari berbagai hiruk pikuk kehidupan di kota. Kita dapat berendam atau berenang dengan leluasa karena pantai ini sangat sepi dan bebas dari keramaian orang. Hotel ini sangat cocok bagi Anda pemuja kesepian dan ingin menenangkan diri dari segala masalah yang ada.
            Kekurangan hotel ini hanyalah satu, yakni lokasinya yang sangat jauh dari keramaian kota. Ketika Anda tiba di hotel ini, Anda akan sulit untuk menemukan restoran dan tempat berbelanja karena lokasi hotel ini sangat terpencil. Kita harus menempuh 30 menit untuk menuju ke pusat kota. Selain itu, kita akan melewati “hutan terlarang” yang sangat gelap saat menuju ke lokasi hotel ini pada malam hari dari pusat kota. Namun secara keseluruhan, Hotel Lor In adalah hotel terbaik yang Dreamland tempati selama berada di Belitung.
            Pesona Pantai Belitung ini memang patut diacungi jempol. Surga yang tersembunyi di Kepulauan Bangka Belitung ini memang sepatutnya dijaga kelestarian dan keperawanannya. Jangan sampai nasib Pantai Belitung serupa dengan Pantai Pangandaran yang sudah sangat kumuh karena banyaknya wisatawan yang tidak memperhatikan kebersihan dengan membuang sampah sembarangan ke laut. Semoga Pemerintah Provinsi Bangka Belitung dapat memperhatikan kebersihan pantainya agar senantiasa menarik dan lestari sampai anak cucu kita kelak.

~ oOo ~

Saturday, May 11, 2013

TKI Riwayatmu Kini

Dreamland Traveller Moment


TKI Riwayatmu Kini
            Berbagai berita tentang TKI di luar negeri melalui media cetak, TV, dan online selalu mengungkapkan berbagai penyiksaan, kasus pelecehan seksual, penganiayaan, dan hal-hal negatif lainnya pada publik. Akibatnya yang muncul di benak masyarakat Indonesia, termasuk Dreamland adalah TKI selalu menjadi korban kebiadaban majikan di luar negeri sampai harus terjun dengan selimut untuk kabur atau melarikan diri karena takut dipukul.
            Ketika Dreamland pergi ke Malaysia, Dreamland menemui banyak sekali Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di sana. Tatkala Dreamland menanyakan asal mereka yang bervariasi, mulai dari Medan hingga Surabaya, mereka dengan ramah melayani Dreamland dengan baik. Maklum bertemu rekan satu tanah air pasti mengingatkan dan mengobati rasa kangen mereka akan Indonesia, bukan? Hehe…
            Waktu ditanya mengenai pekerjaan mereka di sana, mereka dengan semangat menjelaskan betapa nyamannya menjadi TKI di Malaysia. Mereka diberi gaji 1.000 RM untuk menjaga toko, diberi tempat tinggal gratis, dan bosnya pun selalu memberi bonus jika ia akan pulang kampung. Ketika ditanya apakah mau pulang ke Indonesia? Jawabannya tidak! TKI ini mengatakan gaji di sini sangat besar dan mencukupi kebutuhan hidupnya dibandingkan di negara sendiri.
            Memang ketika Dreamland melihat kinerja mereka yang ramah, santun, sopan, dan penuh senyum saat melayani tamu, majikan mereka pasti senang mempekerjakan mereka di sini. Tak heran jika mereka digaji dengan layak dan diberi tempat tinggal karena pekerjaan mereka yang oke. Dreamland justru bertanya-tanya mengapa media di Indonesia banyak menayangkan TKI yang tersiksa, jadi gila, atau hal negatif lainnya. Buktinya Dreamland bisa menemukan angle lain dari TKI. Apakah media kita gemar sekali mengompori masyarakat agar membenci Malaysia karena banyak TKI kita mengemis ringgit di sana?
            TKI di sana pun rata-rata hidup secara layak. Mereka tinggal di apartemen murah yang layak huni, memakai pakaian yang lumayan, serta bisa mengirimi uang untuk keluarga mereka di Indonesia. Rasanya berita miring tentang TKI hampir tidak terbukti sama sekali di sini. Dreamland justru menemukan asumsi lain yang membuat beberapa TKI malang mengalami hal yang tidak menyenangkan selama di luar negeri.
            Rasanya semua majikan waras di muka Bumi ini senang jika TKI yang mereka terima bisa bekerja dengan baik dan menurut ketika disuruh. Dreamland melihat TKI yang bagus tidak pernah tuh rasanya mengalami penyiksaan dan dianiaya majikan. Yang ada justru TKI sudah dianggap bagian dari keluarga mereka, digaji tinggi, dan diantar dan dibelikan tiket pulang secara cuma-cuma. Bisa jadi TKI yang berkualitas rendahlah yang membuat majikan di sana berang dan akhirnya menyiksa. Jika disuruh A tidak bisa, disuruh B malas-malasan, dan disuruh C membangkang. Siapa sih yang tidak geram juga? Mungkin TKI tipe inilah yang menghiasi berita kita di berbagai media.
            Lagipula pemerintah tidak pernah sadar untuk mengirimkan TKI berkualitas ke luar negeri. Pemerintah selalu mementingkan kuantitas dibandingkan kualitas TKI yang akan bekerja di negara lain. Akibatnya, TKI tidak siap dengan berbagai tugas yang harus mereka emban dan membuat para majikan kesal. Coba saja kalau TKI yang kita kirim pandai, pasti semua majikan senang dan mereka bisa menjadi sumber devisa yang paling menjanjikan bagi negara kita. Jadi jangan salahkan melulu majikan di negara lain, sementara pemerintah terus mengirim TKI dengan kualitas yang rendah.
            Nasib TKI yang berkualitas, ramah, dan penuh senyum justru Dreamland lihat lebih baik dibandingkan bekerja di Indonesia yang diupah rendah. Mereka tidak tampak tersiksa, justru sangat menikmati pekerjaan mereka di sana. Maka dari itu, saran bagi pemerintah Indonesia yang menggembar-gembor penyiksaan TKI di luar negeri secara masif di media. Berikan perbekalan dan pelatihan yang memadai bagi calon TKI agar dapat bekerja dengan baik.
            Cara untuk memakai mesin cuci tipe A, membersihkan lantai dengan penyedot debu, dan lain sebagainya yang digunakan di negara lain. Yakinlah bahwa TKI kita akan dihargai dan diapresiasi dengan tinggi, jika mampu melakukan tugasnya dengan baik. Soal TKI disilet, dipukul, ditonjok, dan lain sebagainya bisa jadi karena TKI tersebut tidak bisa diberitahu dan membuat kesal majikannya. Ingat, jangan pernah melihat sesuatu dari satu sisi, tapi lihat sisi lainnya karena apa yang tampak di depan kita ternyata tidak seperti yang kita kira didalamnya. Nasib TKI tidak seburuk itu rupanya!

~ oOo ~