Saturday, May 4, 2013

Keliling Indonesia atau Luar Negeri?

Dreamland Traveller Moment


Keliling Indonesia atau Luar Negeri?
            Dreamland seringkali bingung, geleng-geleng kepala, dan tidak mengerti kalau seseorang bertanya, “Kenapa harus ke luar negeri sih? Emangnya Indonesia ga kurang bagus apa buat dikelilingi dan ga bakal habis-habis?” Entahlah, Dreamland saja malas menanggapi pertanyaan orang semacam ini karena bisa jadi ada 2 kemungkinan. Kemungkinan pertama, ia adalah orang yang tidak suka jalan-jalan ke luar negeri. Kemungkinan kedua, ia adalah orang yang sangat idealis dan tidak mau menerima perbedaan.
            Bagi Dreamland, esensi jalan-jalan itu sendiri adalah menyegarkan pikiran dari rutinitas yang dijalani sehari-hari. Selain itu, jalan-jalan juga bisa jadi sarana untuk menambah wawasan, ilmu, dan hal-hal baru yang belum pernah ditemui sebelumnya dalam kehidupan. Jalan-jalan tentu bukan sekadar makan, tidur, dan main, tetapi pengalaman yang dirasakan selama berada di suatu tempat itulah yang membuat wisata menjadikan Dreamland orang yang “kaya” akan wawasan.
            Berwisata ke luar negeri bagi Dreamland adalah sebuah pembelajaran yang sangat amat penting bagi setiap orang. Mengapa? Kita akan tahu baik dan buruk pariwisata negara kita sendiri setelah berkaca pada pariwisata negara lain. Kok bisa ya Thailand yang negaranya sekecil itu bisa menarik wisatawan asing 2 kali lipat dibandingkan Indonesia yang wilayahnya sangat luas? Kok bisa ya Singapore punya MRT, sementara kita tidak punya sampai sekarang? Pertanyaan semacam itulah yang akan bisa terjawab tatkala kita pergi ke luar negeri.
            Pergi ke luar negeri juga akan mendewasakan kita untuk menerima perbedaan. Tatkala kita masuk ke kuil, kita tidak boleh mengenakan topi dan sandal. Kita juga dibiasakan untuk buang sampah pada tempatnya agar tidak terkena denda. Selain itu, kita juga tahu mengapa suatu negara sangat displin, rapi, tertib, dan bersih setelah kita melihat langsung seperti apa wujud negara itu. Mempelajari budaya, bahasa, dan mencoba cita rasa kuliner baru juga akan menambah pengalaman hidup kita, bukan?
            Berbeda dengan orang yang tidak pernah ke luar negeri. Rata-rata teman Dreamland yang tidak pernah ke luar negeri sangat fanatik dan sentimen terhadap perbedaan. Disulut isu panas seputar TKI yang disiksa langsung poster “Ganyang M***y**a” bertebaran di mana-mana. Kedutaan negara tersebut dikepung oleh organisasi masyarakat yang mengatasnamakan agama, namun implementasi kehidupannya jauh dari kata agama. Pokoknya mereka sangat heboh dengan isu yang belum tentu benar kebenarannya.
            Andai saja mereka melihat langsung TKI di Penang dan Kuala Lumpur. Rata-rata hidup mereka lebih sejahtera dan senang. Gaji mereka terjamin dan mereka bisa membiayai keluarga mereka di Indonesia dengan baik. Rata-rata mereka mengatakan TIDAK MAU pulang kembali ke negara tercinta. Persentase TKI yang disiksa hanya sepersekian persen, sementara yang disorot berita di Indonesia selalu TKI yang loncatlah, yang diperkosalah, dan dianiayalah. Kalau sudah begini kan bisa disimpulkan TKI dengan tipe bagaimanakah yang disiksa majikannya, apakah yang baik atau bandel? Silahkan jawab sendiri.
            Rata-rata TKI di sana pun disayang majikannya. Coba lihat di Jalan Alor, TKI yang Dreamland temui sangat diperhatikan oleh majikannya. “Saya di sini dikasih 1.000 RM sudah diberi tempat tinggal sama tiket pesawat pulang sama majikan pas Lebaran.” Nah lho, TKI di Indonesia tidak selamanya jadi sansak tinju atau barang jualan. Coba lihatlah sebuah kebenaran sendiri dan rasakan ternyata apa yang diberitakan tidak selamanya benar dan akurat. Pergi ke luar negeri membuat kita sadar akan kebenaran, bukan gosip semata.
            Selain itu, orang yang belum pernah ke luar negeri juga sebagian besar nyinyir. “Belagu banget sih ke luar negeri. Emang negara kita kalah bagus ya?” Waduh, kalau dibalikin emang situ udah pernah keliling Indonesia ya? Ditanya daerah A, B, C, D, dan E saja ga tahu. Entahlah kefanatikan terhadap suatu tempat membuat otak seseorang jadi berpikiran sempit, padahal dunia begitu luas dan layak kita simak sebelum kita meninggal, bukan?    
            Pergi ke luar negeri bukan sekadar gengsi atau menambah cap di paspor saja, melainkan juga kita belajar untuk memahami sebuah fakta. Fakta bahwa negara kita tidak lebih baik atau tidak lebih buruk dari negara lain. Lewat negara lain, kita bisa membenahi penataan pariwisata kita yang boleh dikatakan kacau balau. Sistem transportasi yang membingungkan, banyaknya penipuan di bandara, serta kekurangan lain dapat menjadi pelajaran berharga bagi negara kita sendiri.
            Nah setelah kita keliling luar negeri, barulah kita lihat ke dalam negara kita sendiri. Apa saja yang menjadi kelebihan dan kekurangannya? Barulah kita keliling Indonesia untuk memberikan rekomendasi pada pemerintah setempat apa saja yang baik dan perlu dibenahi agar pariwisata wilayah tersebut menjadi lebih baik berkaca pada negara yang pariwisatanya lebih baik dari negara kita. Boleh dong kita rendah hati mengakui kekurangan kita toh tidak ada negara yang sempurna dan kita adalah salah satu negara yang masih harus belajar untuk menjadi lebih baik, bukan?
            Keengganan banyak orang Indonesia, termasuk Dreamland keliling Indonesia bukanlah karena Indonesia kurang indah atau hebat dibandingkan negara lain. Dreamland terhambat oleh kendala transportasi umum, keamanan, dan keselamatan. Coba saja kalau konsumsi berita di televisi saja seputar pesawat yang jatuh di perairan Indonesia, apakah kalian berani naik pesawat perintis ke pelosok Indonesia tanpa jaminan keselamatan. Tentu tidak, bukan?
            Selain itu, kasus kriminalitas, sentimen SARA, dan kejahatan juga terus menerus mewarnai berita. Tak heran rasanya rasa takut untuk mengunjungi sebuah wilayah di Indonesia menjadi sangat amat besar. Tentu tidak mau dong pergi ke sebuah tempat, kemudian pulang tinggal nama karena suatu daerah anti SARA tertentu. Selain itu, pengelolaan wisata di Indonesia juga kebanyakan kurang memperhatikan kebutuhan konsumen, sehingga unsur keamanan dan keselamatan jarang diperhatikan dengan baik.
            Jujur saja Dreamland harus akui kalau alam Indonesia itu tidak ada duanya dan jauh lebih indah dari semua negara yang pernah Dreamland kunjungi sampai saat ini. Hanya saja, pemerintah tidak pernah peduli dengan potensi pariwisata di daerahnya. Kalau sudah begini, masa menuntut masyarakatnya lebih peduli pada pariwisata di negara tercinta. Di mana pun pemimpin harus memberi contoh yang baik pada masyarakatnya. Kalau pemimpinnya saja tukang studi banding ke Denmark, Paris, dan jalan-jalan di luar negeri, wajar dong kalau rakyatnya ikut serta karena mendapat contoh dari pemimpin.
            Oke Dreamland acungi jempol dengan program “Visit Indonesia”, namun jika implementasi untuk peningkatan kualitas wisatanya saja tidak dilakukan, siapa sih yang mau datang ke Indonesia dengan berita-berita kurang sedap, baik di dalam maupun di luar negeri. Apalagi penyelenggaraan Miss World 2013 saja dihalang-halangi oleh ormas tertentu. Padahal event bergengsi ini menjadi media promosi pariwisata kita. Kan sama saja menunjukkan Indonesia tidak toleran terhadap perbedaan, bahkan mengarah pada sentimen dan fanatisme.
            Entahlah Dreamland selalu heran dengan orang yang kebakaran jenggot kalau ada orang yang pergi ke luar negeri. Seolah dunia mereka hanyalah rumah atau kantor atau sekolah saja, demikian siklusnya. Belajar itu tidak mengenal tempat karena setiap pengalaman adalah pelajaran yang tidak akan didapat di bangku sekolah atau kuliah. Keliling Indonesia dan luar negeri sama pentingnya karena kita akan mendapat pelajaran berharga dari setiap tempat yang kita singgahi. Maka dari itu, berjalan-jalanlah sejauh mungkin, tapi dekatlah hati pada Indonesia!

~ oOo ~

No comments:

Post a Comment

Terima kasih dan selamat datang di Dreamland Traveller! Komentar, saran, dan pertanyaan dapat dituliskan pada kolom komentar di bawah ini.