Friday, August 16, 2013

Bandara Internasional, Pelayanan Regional

Dreamland Traveller Moment


Bandara Internasional, Pelayanan Regional
            Berbicara tentang airport Indonesia, tak habis-habisnya Dreamland melihat begitu banyak ketidakprofessionalan dari petugas bandara kita. Entah karena kita baru mempunyai penerbangan internasional yang gencar baru-baru ini ataukah petugas bandara kita tidak dilatih untuk memberikan pelayanan dengan standar internasional? Budaya Indonesia yang gemar serobot menyerobot antrian, serta anggota keluarga adalah prioritas membuat citra bandara kita menjadi tercoreng di mata dunia. Tak heran rasanya jika bandara Indonesia sering dijuluki bandara internasional dengan pelayanan regional.
           Tatkala Dreamland berangkat menuju Singapore pada rangkaian Singapore and Johor Bahru Trip pukul 05.00, antrian penumpang di imigrasi begitu membludak. Padahal konter imigrasi yang tersedia ada 2, namun hanya 1 yang melayani. Anehnya petugas imigrasi dengan santainya baru muncul dari kantor ke konter imigrasi yang kosong. Padahal waktu keberangkatan sudah hampir tiba dan antrian masih sangat panjang. Tentu geram rasanya melihat kinerja petugas bandara yang seperti itu, apalagi jika dia sudah tahu setiap hari penerbangan internasional ke Singapore itu diadakan pagi hari dan siang hari secara berkala. 
            Petugas bandara kita juga menjalankan tugasnya sambil mengobrol. Bayangkan air minum yang seyogianya tidak boleh dibawa masuk pesawat bisa lolos begitu saja di tas banyak orang. Layar pemindai seolah menjadi formalitas belaka, wajar kalau negara kita banyak disusupi orang yang membawa narkoba dan barang terlarang lainnya dengan kelenggahan penjagaan bandara internasional kita. Ada yang sibuk main HP, ada yang ketawa ketiwi, dan ada yang bengong. Entahlah apakah mereka dibayar untuk melakukan aktivitas tersebut atau tidak.
            Malunya lagi Bandara Husein Sastranegara yang disebut internasional ini benar-benar sangat minim fasilitas. Bayangkan saat menunggu di ruang tunggu internasional, ruangannya sangat sempit dan minim. Entahlah wacana Dirjen Penerbangan yang katanya mau memperluas bandara yang sudah semakin sibuk ini seolah hanya kata-kata saja tanpa ada pembenahan dan perbaikan yang terlihat. Wi-Fi tidak tersedia, kursi berdempet-dempetan, dan ACnya langsung kena muka. Masuk ke pesawat saja kita harus berjalan kaki lumayan jauh. 
            Belum lagi saat Dreamland mendarat kembali di Bandung saat pulang dari Singapore. Dreamland harus berjalan ke ruang kedatangan dan menjalani cap imigrasi. Lagi-lagi antriannya membludak dari sekian banyak konter imigrasi yang ada. Entah mengapa petugas imigrasi kita kerjanya sangat amat lambat. Selain itu, bisa-bisanya ada orang yang menyerobot antrian setelah membayar jasa porter via “jalur khusus”. Tentu antrian semakin menumpuk karena penerbangan internasional Kuala Lumpur belum selesai, kini penerbangan Singapore sudah datang. Malu kan jika ada turis internasional yang melihat hal ini?
            Di depan bandara Husein Sastranegara juga banyak sekali supir taksi gelap, tidak ada angkutan bus ke bandara, serta minim petunjuk bagi turis awam yang baru pertama kali ke Bandung. Tentu risiko untuk ditipu, dihipnotis, dan diculik bisa sangat mungkin terjadi kalau sudah seperti ini. Tempat ambil kopernya juga sangat memalukan, hanya 1 papan berjalan saja yang manual. Padahal lahan Bandara Husein Sastranegara ini sangat luas dan bisa membangun gedung bandara yang jauh lebih megah dan bagus. Entahlah dana yang disiapkan pemerintah ini mengalir ke mana?
            Bukannya Dreamland tidak nasionalis atau tidak membela bandara Indonesia, namun kenyataan di lapangan kita harus sadar bahwa bandara kita belum layak disebut sebagai bandara internasional? Coba saja tengok bandara internasional di negara tetangga kita. Changi Airport di Singapore sangatlah bagus dan megah dengan pelayanan dan fasilitas bandara yang canggih. Suvarnabhumi Airport di Bangkok sangatlah luas dan megah dengan pelayanan bandara yang cepat. Don Mueang Airport di Bangkok yang merupakan bandara kuno Thailand pun sangatlah luas dan ACnya berfungsi dengan baik.
            Sudah sepatutnya kita belajar dan berbenah agar bandara Indonesia tidak terkesan kampungan dan baru belajar menjadi “internasional”. Tidak perlu berpikir untuk merombak total bangunan bandara yang bisa memakan biaya triliunan. Cukup dengan membenahi mentalitas petugas-petugas bandaranya saja yang suka mengobrol, main HP, dan malas-malasan dalam bekerja. Selain itu juga menghilangkan “jalur khusus” dengan menggunakan jasa porter juga bisa dilakukan agar bandara kita tidak terlihat memalukan oleh turis asing yang datang ke Bandung.
            Semoga saja kelak Bandara Husein Sastranegara di kota Dreamland tercinta bisa menjadi bandara internasional yang benar-benar internasional, bukan hanya sekadar tempelan namanya saja!

~ oOo ~

No comments:

Post a Comment

Terima kasih dan selamat datang di Dreamland Traveller! Komentar, saran, dan pertanyaan dapat dituliskan pada kolom komentar di bawah ini.