Wednesday, February 6, 2013

Die At Young Age

Dreamland Traveller Moment


Die At Young Age
            Banyak orang enggan, takut, atau merasa tabu membicarakan topik tentang kematian. Ya, kematian memang salah satu siklus kehidupan manusia yang pasti akan dialami oleh siapapun. Hanya saja, kematian adalah sebuah rahasia Ilahi yang takkan pernah diketahui manusia. Kita takkan pernah tahu kapan, di mana, dan dengan siapa kita akan berpulang kembali pada Sang Pencipta. Kita hanya bisa mempersiapkan diri sebaik mungkin agar kelak tidak timbul penyesalan tatkala ajal datang menjelang.
            Selama seminggu terakhir, Dreamland membaca di surat kabar bahwa terdapat 3 orang rekan seumuran Dreamland yang meninggal di usia muda. Satu berusia 19 tahun, dua lainnya berusia 18 dan 16 tahun. Semuanya meninggal karena mengalami kecelakaan di jalan raya. Dreamland tentu sangat terkejut mendengar kabar kematian rekan seumuran Dreamland. Di tengah masa muda yang energik, aktif, dan penuh rasa, mereka harus mengakhiri perjalanan hidup mereka di dunia ini.
            Ya, itulah kematian. Kini kematian tidak lagi menjadi monopoli kaum tua saja. Banyak orang berasumsi bahwa orang yang sudah berumur akan meninggal lebih cepat dibandingkan yang muda. Nyatanya kaum muda tak luput dari yang namanya kematian. Faktor naas dan ketidak hati-hatian dalam berkendara di jalan raya menjadi penyebab banyaknya kematian anak muda dewasa ini.
            Senin, 28 Januari 2013 lalu, Dreamland pun hampir dibayang-bayangi malaikat maut. Ketika pulang dari kampus, Dreamland merasa kepala terasa begitu pening. Apalagi setelah mengikuti kelas yang cukup panjang dan padat, telat makan, serta minum-minuman yang dingin. Dada Dreamland mulai terasa sesak di angkot dan Dreamland pun berhenti untuk meminta dijemput di lokasi tertentu.
            Tiba-tiba kesemutan mulai menjalar ke seluruh badan Dreamland. Awalnya sesak nafas, kemudian tangan dan kaki mulai kesemutan dan kaku! Semua terjadi begitu cepat. Kepala Dreamland berputar dengan cepat. Si penjemput tak kunjung juga datang! Dreamland menelepon kembali ke rumah dengan tenaga yang masih tersisa. Tangan yang sudah gemetar memegang handphone dan nafas yang sudah tersenggal-senggal.
            Dreamland berusaha menjaga keseimbangan dan bernafas seperti biasa, namun semua sia-sia. Kepala Dreamland pun mulai dilanda kesemutan dan saat itulah Dreamland mulai berpikir tentang hal yang paling ditakutkan semua orang itu. Apakah ini saatnya Dreamland meninggal? Satu-satunya yang Dreamland pikirkan saat itu hanyalah orang tua di rumah yang dengan setia mengasuh dan membimbing Dreamland hingga ke usia saat ini. Betapa sia-sianya semua pengorbanan yang mereka berikan jika Dreamland harus meninggal di tempat ini.
            Akhirnya tatkala kesadaran Dreamland mulai kabur, sopir yang datang dari rumah pun tiba di lokasi. Dengan cepat, Dreamland naik ke motor dengan kondisi tangan dan kaki sudah kaku seperti mayat. Sambil menahan rasa sakit dan pusing di kepala, serta mencoba menggerakkan tangan yang sudah kaku, Dreamland hanya berdoa agar ditibakan di rumah dengan secepat-cepatnya.
            Setiap hembusan nafas benar-benar terasa sangat berarti dan menunjang Dreamland untuk tetap bertahan hidup sampai di rumah. Orang tua sudah sangat cemas, langsung berlarian di rumah mencari pertolongan. Jujur Dreamland sudah tidak berpikir apa-apa lagi selain berusaha tetap bernafas dengan tersengal-sengal dengan badan yang sudah tidak dapat digerakkan semua karena kesemutan.
            Entah karena Sang Pencipta masih memberikan hak veto untuk membiarkan Dreamland tetap hidup di dunia, seorang pekerja yang ada di rumah Dreamland yang kebetulan sedang membenarkan rumah ternyata mampu memberikan pertolongan darurat. Dengan kencang, beliau menusuk-nusuk kaki dan tangan Dreamland dengan ujung korek api. Perlahan nafas Dreamland mulai bisa berhembus, meskipun masih tersengal-sengal.
            Selama 3 jam, Dreamland ditusuk dan dipijat keras-keras hingga akhirnya Dreamland bisa tersadar kembali meskipun dalam kondisi tangan dan kepala masih kesemutan. Dreamland benar-benar bersyukur masih diberi kesempatan hidup. Ternyata setelah ditelusuri penyakit Dreamland adalah kram perut dan angin duduk. Bapak yang menolong Dreamland mengatakan bisa saja Dreamland langsung meninggal seketika jika tidak kuat, namun sekali lagi Dreamland bersyukur masih bisa bernafas dan mengetik tulisan ini dengan baik hingga hari ini.
            Pelajaran dari pengalaman mencekam yang Dreamland alami ini adalah kita takkan pernah tahu kapan, di mana, dan bagaimana kita meninggal. Kita harus menyadari bahwa hidup ini adalah titipan Sang Pencipta yang harus dipertanggungjawabkan. Dreamland bersyukur melihat Dreamland masih bisa bangun setiap pagi dan bernafas dengan lega setelah kejadian itu. Sehari setelah kejadian itu, rekan Dreamland yang berusia 19 tahun meninggal karena kecelakaan motor di Jakarta, menyusul 2 hari kemudian, 2 orang adik kelas Dreamland di SMA yang meninggal.
            Kematian di usia muda pun pernah dialami guru Kimia SMA Dreamland yang harus merenggang nyawa akibat dirampok. Di usianya yang masih 28 tahun dan sudah mempunyai seorang anak yang masih balita, ia harus meninggal karena ulah orang yang tidak bertanggung jawab. Akibat tasnya dijambret, kepalanya terantuk aspal jalan yang berlubang. Gegar otak pun membanjiri seluruh kepala guru SMA Dreamland, sebelum akhirnya tidak tertolong tatkala dilarikan ke rumah sakit. Sungguh kejadian yang sangat tragis!
            Tatkala kita masih mengeluh dengan kondisi hidup kita, ingatlah bahwa kekuatan manusia hanyalah bersumber dari nafas semata. Nafas yang kita anggap sepele karena oksigen beredar bebas di udara bisa jadi akan sangat bernilai tatkala kita sedang sakit keras. Setiap hembusan nafas itu akan dinilai dengan rupiah tatkala organ tubuh kita tak lagi berfungsi dengan optimal. So, jangan pernah merasa menjadi orang hebat atau berkuasa karena semua takkan ada artinya lagi tatkala nafas kehidupan itu sudah dicabut dari diri kita.
            Terbayang andai Dreamland meninggal, apa yang akan dilakukan teman-teman Dreamland. Mungkin hanyalah memasang profile picture di BBM dengan tulisan Deep Condolance dengan ucapan turut berduka cita. Saat ditanya tentang kematian teman SMAnya, teman Dreamland hanya mengatakan sedih, tidak menyangka, kaget, dan lain sebagainya. Ya, hanya sebatas itu. Mungkin juga ada yang senang, tertawa, dan tersenyum lebar, apalagi orang yang pernah bermasalah dengan Dreamland.
            Hingga saat ini setelah kejadian tersebut, Dreamland merasa sangat bersyukur masih bisa bertemu dengan A, B, dan C di kampus. Dreamland selalu mengatakan “Sampai ketemu besok ya!” dengan harapan dan doa bahwa Dreamland masih hidup di dunia ini dengan kondisi sehat tanpa kekurangan suatu apapun. Mulailah menyadari bahwa kita adalah orang yang beruntung masih bisa bertemu orang di sekitar kita setiap harinya karena Sang Pencipta masih memberikan jatah kehidupan untuk diri kita.
            Siapapun takkan pernah tahu kapan ia akan meninggal. Yang pasti, sebelum kita meninggal, mari kita berbuat sesuatu yang berguna buat orang-orang di sekitar kita. Berikan dampak positif pada keluarga, orang yang kita cintai, dan lingkungan di sekitar kita agar kepergian kita tidaklah sia-sia. Meninggal di usia muda tentu bukan keinginan siapapun, tapi selalu bersiaplah karena yang kita miliki hanyalah hari ini. Esok hanyalah kepunyaan Sang Pencipta. Semoga renungan ini bermanfaat untuk sobat Dreamland semuanya!

~ oOo ~

No comments:

Post a Comment

Terima kasih dan selamat datang di Dreamland Traveller! Komentar, saran, dan pertanyaan dapat dituliskan pada kolom komentar di bawah ini.