Wednesday, June 5, 2013

Day 5 : Membisu di Choeung Ek Memorial dan Toul Sleng Genocide Museum

Dreamland Traveller


Day 5 : Membisu di Choeung Ek Memorial dan Toul Sleng Genocide Museum
            Dreamland pun bersiap untuk mengikuti city tour dari supir tuk-tuk yang telah disewa kemarin. Supir tuk-tuk pun bersiap untuk membawa Dreamland menuju Choeung Ek Memorial yang terletak sekitar 15 km dari kota Phnom Penh. Perjalanan selama 40 menit pun terasa begitu lama karena suasana jalan yang sangat berdebu dan menyaksikan kemacetan di beberapa titik jalan di Phnom Penh. Dreamland juga melihat kota Phnom Penh sedang dibangun besar-besaran dengan adanya berbagai mesin berat yang sedang mengerjakan bangunan besar.


















            Sesampainya di Choeung Ek Memorial, suasana sunyi pun langsung terasa. Dreamland langsung masuk ke konter tiket dan membayar 5 US Dollar. Biaya tersebut sudah termasuk audio guide yang akan menerangkan berbagai sejarah Choeung Ek sebagai killing field di masa Khmer Merah dalam bahasa yang kita inginkan. Sayangnya Bahasa Indonesia tidak tersedia sebagai opsi bahasa, akhirnya Dreamland pun memilih Bahasa Malaysia sebagai bahasa audio agar mudah dimengerti dibandingkan bahasa lainnya.


















            Choeung Ek Memorial sendiri awalnya adalah kompleks perkuburan China. Namun tempat ini berubah fungsi menjadi ladang pembantaian rakyat Kamboja atau Khmer pada masa kepemimpinan Pol Pot. Pol Pot adalah pemimpin Khmer Merah yang bercita-cita untuk mengubah negara Kamboja yang korupsi pada saat masa kerajaan menjadi negara komunis. Tak heran tatkala ada rakyat yang dianggap sebagai pemberontak atau pembela pemimpin sebelumnya akan ditangkap dan disiksa sampai akhirnya dibunuh di tempat ini.


















            Dreamland pun melihat sebuah monumen besar yang dipenuhi rak berisi tengkorak dan pakaian korban pada masa Khmer Merah berkuasa. Pada saat Khmer Merah berkuasa, tak kurang dari 2,5 juta masyarakat Kamboja dibunuh secara brutal dan dibuang di ladang pembantaian ini. Suasana Choeung Ek Memorial ini sangat sunyi karena pengunjung diminta untuk menghormati arwah dari para korban S-21 yang dibunuh secara tidak wajar.


















            Hampir semua pengunjung adalah bule yang menggunakan audio guide. Dengan seksama, mereka mendengarkan cerita yang dipaparkan dari setiap bagian dari situs yang ada di Choeung Ek Memorial. Sangat seram rasanya membayangkan korban yang disiksa secara brutal, kemudian dibunuh dengan begitu mudahnya pada masa Khmer Merah. Cerita audio guide membuat Dreamland serasa kembali ke masa kepemimpinan Khmer Merah, di mana Dreamland melihat bayi, wanita, dan pria dibunuh secara massal di tempat ini. 


















            Rekaman akan menceritakan kisah sesuai nomor yang ada di situs yang kita kunjungi. Kebanyakan situs adalah papan baca karena tempat tersebut sudah dihancurkan pada saat ditemukan setelah masa kepemimpinan Khmer Merah atau Democratic Kampuchea berakhir. Korban yang dibawa ke tempat ini ditutup matanya sebelum akhirnya dibunuh dengan peralatan yang ada, mulai dari kampak, balok kayu, pisau, dan peralatan lainnya. Sangat mengerikan sekali jika membayangkan hal tersebut terjadi.


















            Di ladang pembantaian ini, terdapat pohon yang digunakan untuk membunuh bayi agar tidak bisa membalas dendam pada penguasa Khmer Merah saat dewasa nanti. Bayi-bayi malang itu dibunuh dengan cara diangkat kedua kakinya dan dibenturkan ke pohon dengan sangat keras sampai mati. Setelah itu, mayatnya dibuang begitu saja ke lubang yang telah disiapkan. Setelah itu, ada juga pohon yang digunakan sebagai pengeras suara untuk mengumandangkan lagu-lagu komunis Kamboja pada saat petugas Khmer Merah membunuh korbannya secara brutal, sehingga teriakan dan tangisan tersamarkan oleh bunyi musik-musik tersebut. Benar-benar sangat sadis.


















            Setelah puas melihat ladang pembantaian yang menjadi bekas tempat dikuburnya jutaan tengkorak, mulai dari wanita dan anak yang dibunuh dalam keadaan telanjang, buruh yang mati karena kerja paksa, sampai bayi-bayi yang mati dengan cara dibanting ke pohon. Dreamland pun masuk ke museum yang ada dan melihat foto-foto yang ada pada masa lampau. Betapa jahatnya Pol Pot membunuh masyarakat Khmer sendiri demi mewujudkan ambisinya menjadikan Kamboja sebagai komunis. Ada dugaan Vietnam dan China berperan serta dalam mempengaruhi ideologi Pol Pot, sehingga ia berasumsi mengubah Kamboja menjadi sama seperti komunis menurut sejumlah masyarakat lokal.


















            Di museum Choeung Ek Memorial, berbagai peralatan pembunuhan dan foto-foto pembantaian dipampangkan dengan gamblang. Betapa menyedihkannya melihat jutaan orang mati sia-sia sampai foto beberapa artis Kamboja pun ikut menjadi korban dalam peristiwa ini. Kebetulan Dreamland berkesempatan melihat video berdurasi 15 menit di ruangan audio visual museum Cheoung Ek Memorial. Dreamland pun akhirnya mengerti sejarah lahirnya Khmer Merah dan dampak yang mereka hasilkan selama 4 tahun berkuasa di Kamboja. 


















            Sehabis mengheningkan cipta di Choeung Ek Memorial dengan segala saksi bisu kekejaman Khmer Merah didalamnya, Dreamland pun beranjak menuju Toul Sleng Genocide Museum (S-21) yang terletak dengan penginapan yang Dreamland tempati. Supir tuk-tuk pun dengan sigap membawa Dreamland kembali ke Phnom Penh. Di perjalanan, Dreamland menyempatkan diri untuk membeli sejumlah makanan sebelum akhirnya tiba di museum mengerikan ini.


















            Toul Sleng Genocide Museum ini terletak di tengah pemukiman warga. Bangunan sekolah ini tetap dipertahankan dengan kondisinya seperti di masa lampau, sehingga menambah kesan keangkeran dari tempat penyiksaan ini sendiri. Di masa lampau, Toul Sleng Genocide ini merupakan tempat penahanan dan penangkapan tahanan yang dicurigai sebagai pemberontak sebelum akhirnya dibunuh di killing field yang ada di Choeung Ek. Sungguh sebuah museum yang sangat amat menyeramkan walaupun dikunjungi saat siang hari.


















            Setelah membayar tiket masuk senilai 2 US Dollar, Dreamland dibawa melihat tempat penyiksaan korban kekejaman Khmer Merah yang disebut tahanan S-21 secara nyata. Ranjang-ranjang penderitaan dibiarkan terpampang begitu saja di ruangan yang sudah tak bertuan ini. Ruangan yang awalnya kelas ini disulap menjadi tempat penyiksaan yang sangat memilukan. Sisa darah para korban masih tertinggal di besi dan lantai dari Toul Sleng Genocide tanpa bisa terhapus oleh masa.


















            Museum ini menyajikan tempat penyiksaan secara nyata. Kita seolah dapat membayangkan saat petugas Khmer Merah menyiksa rakyat Khmer. Sebelum mereka dibunuh, mereka difoto terlebih dahulu dengan alat fotografi kuno yang tersedia. Dengan diberi nomor urut, mereka akan dibunuh secara bergilir sesuai nomor urut yang ada. Kebanyakan dari mereka adalah perempuan dan laki-laki yang masih remaja dan sangat muda. Foto mereka terpampang besar di sepanjang ruang museum.


















           Mereka disiksa secara membabi buta di Toul Sleng Genocide ini, mulai dari dicabut kuku jarinya dengan tang, dicabut puting payudaranya dengan capit besi, ditenggelamkan dalam kolam dan gentong, serta dibelenggu dalam sel penjara yang amat sangat kecil. Tak heran jika beberapa diantara para tahanan ini ada yang meninggal karena tidak tahan dengan kekejaman rezim Khmer Merah ini. Mengerikan rasanya melihat ilustrasi yang ditampilkan di sini.


















            Toul Sleng Genocide Museum ini terdiri dari 4 gedung yang mampu menggambarkan betapa menyedihkannya nasib tahanan di masa Khmer Merah berkuasa, yakni pada 17 April 1975 sampai 7 Januari 1979. Korbannya bukan hanya warga Khmer saja, tetapi juga ada orang asing yang ikut dibunuh di sini. Mereka sempat menulis surat yang dipamerkan sebelum akhirnya nyawa mereka melayang di Kamboja. Sungguh tragis dan memilukan.
            Saat memasuki ruang tahanan yang masih sama seperti masa itu, sisa darah para tahanan yang sudah menghitam masih terlihat di lantai. Para tahanan ini tidak diberi makanan secara layak dan hanya menunggu waktu untuk mati. Mereka pun hanya mandi dengan cara dipancurkan air dari luar jendela. Itu pun hanya dilakukan 1 minggu sekali saja. Tidur pun berdempetan seperti sarden. Mereka diperlakukan layaknya binatang yang tidak punya harga sama sekali.










            Setelah selesai mengeksplorasi museum yang menyisakan duka bagi masyarakat Kamboja ini, Dreamland pun langsung menuju lokasi wisata selanjutnya, yakni The Royal Palace and Silver Pagoda. Di Toul Sleng Genocide ini ada seorang korban tahanan Khmer Merah yang selamat dan menulis buku. Jika tertarik, kita bisa membeli buku yang ia tulis senilai 10 US Dollar. 







            Perjalanan pun berlanjut menuju kompleks istana raja Kamboja di The Royal Palace. Matahari yang begitu panas membuat Dreamland merasa sangat gerah dan cepat merasa lelah. Setelah membayar tiket seharga 25.000 Riel Kamboja atau setara dengan 6,25 US Dollar, Dreamland pun masuk ke kompleks istana kerajaan yang sangat dijaga ketat oleh petugas. Dreamland sempat kesal berada di sini karena tidak boleh ke beberapa kompleks bangunan yang ada. Selain itu, Dreamland hanya boleh melihat kursi dan peralatan antik kerajaan dari luar saja. Huh, rasanya percuma saja berada di sini.






            Akhirnya Dreamland pun mempercepat langkah berwisata di The Royal Palace ini dan hanya melihat Silver Pagoda sekilas saja. Matahari yang panas membuat Dreamland semakin malas saja berjalan-jalan di sini, sehingga Dreamland hanya berfoto sekilas dan langsung keluar dari kompleks istana raja Kamboja ini. Dreamland pun langsung dibawa supir tuk-tuk menuju National Museum, namun karena bosan dengan arsitektur dan isi yang kurang lebih sama akhirnya Dreamland tidak berminat masuk ke museum ini.
            Kemudian, supir tuk-tuk pun membawa Dreamland menuju Wat Phnom. Berhubung Dreamland sudah bosan dengan candi yang bentuknya kurang istimewa dan cenderung begitu-begitu saja jadi Dreamland pun langsung melewatkan lokasi wisata yang satu ini. Dreamland langsung meminta diantar menuju Central Market atau Phsar Thmey dengan arsitektur bangunan yang sangat luas dan memukau. Bangunan yang menyerupai tentakel berkaki 4 raksasa ini menjual berbagai variasi produk untuk turis dan masyarakat lokal, mulai dari kuliner, suvenir, sampai perhiasan. 


            Dreamland menyempatkan diri untuk melihat-lihat sejenak dan berbelanja sejumlah oleh-oleh sebelum akhirnya diantar pulang menuju penginapan. Jalanan yang macet karena jam pulang kerja pun harus Dreamland lalui sebelum akhirnya tiba kembali di penginapan tercinta. Sesampainya di penginapan, badan Dreamland yang sudah sangat capek pun akhirnya membuat Dreamland ingin beristirahat saja dan mengurungkan diri untuk berjalan kaki kembali di malam hari.
            Perasaan yang campur aduk, antara sedih, marah, dan aneh pun berkecamuk tatkala Dreamland merenungkan kembali kekejaman Khmer Merah di masa lampau, apakah ambisi seorang manusia mampu menjadikan nyawa 2,5 juta orang menjadi taruhannya? Sungguh sebuah pengalaman yang membukakan mata hati dan mengenal sejarah Kamboja setelah berada di Cheoung Ek Memorial dan Toul Sleng Genocide Museum. Dreamland pun beristirahat untuk mempersiapkan diri pada esok hari dalam rangka kepulangan kembali ke Thailand via Poipet dengan bus.

Phnom Penh, Kamboja, 29 Mei 2013

Dreamland Traveller

Catatan:
- Phnom Penh adalah ibukota negara Kamboja.
- Mata uang yang sering dipakai di Phnom Penh adalah Riel Kamboja (KHR), namun US Dollar juga diterima sebagai mata uang yang sah.
- Beberapa masyarakat lokal di Phnom Penh tidak fasih berbahasa Inggris sehingga menyulitkan ketika berbicara.
- Suasana kota Phnom Penh boleh dikatakan agak tertinggal jika dibandingkan ibukota di negara ASEAN lainnya.
- Tempat belanja yang terkenal di Phnom Penh adalah Central Market atau Phsar Thmey dan Russian Market atau Phsar Toul Tom Poung.
- Tempat wisata yang wajib dikunjungi di Phnom Penh, antara lain Choeung Ek Memorial, Toul Sleng Genocide Museum (S-21), The Royal Palace and Silver Pagoda, dan Wat Phnom.

~ oOo ~

No comments:

Post a Comment

Terima kasih dan selamat datang di Dreamland Traveller! Komentar, saran, dan pertanyaan dapat dituliskan pada kolom komentar di bawah ini.