Wednesday, June 19, 2013

Day 3 : Ketatnya Perbatasan Thailand – Myanmar di Mae Sai dan Thachilek

Dreamland Traveller


Day 3 : Ketatnya Perbatasan Thailand – Myanmar di Mae Sai dan Thachilek
            Hari ini, Dreamland akan memulai Golden Triangle Trip dengan mengunjungi sebuah wilayah perbatasan di utara Chiang Rai yang berbatasan langsung dengan negara Myanmar. Apalagi kalau bukan Mae Sai. Setelah mandi dan mempersiapkan diri, Dreamland pun berjalan kaki menuju terminal bus lama yang terletak 700 meter dari hotel tempat Dreamland menginap. Suasana kota Chiang Rai di pagi hari ternyata hampir sama dengan suasana kota Sukabumi sebagai kota kecil yang terletak di dataran tinggi.





            Dreamland sempat tersasar saat mencari terminal bus lama ini karena salah membaca peta, sehingga berjalan memutar. Perjalanan yang seharusnya dapat ditempuh selama 10 menit jalan kaki, kini menjadi 30 menit. Sesampainya di terminal bus lama, Dreamland dapat dengan mudah menemui bus yang mempunyai jurusan ke Mae Sai. Dengan cepat, Dreamland pun naik ke bus yang kondisi fisiknya menyerupai Kopaja di Jakarta ini. Sistem pembayaran busnya pun ditagih saat berada di bus oleh kenek busnya. 





            Setelah bus penuh, Dreamland pun berangkat dari terminal menuju Mae Sai. Perjalanan selama 1 jam 30 menit ini pun terasa begitu melelahkan karena kondisi bus yang memprihatinkan dan mata Dreamland yang masih sangat mengantuk. Pemandangan sepanjang jalan yang terlihat adalah sawah yang begitu hijau dan adanya latar belakang pegunungan yang menenangkan hati. Sesampainya di terminal bus Mae Sai, Dreamland tak perlu bingung dengan angkutan yang akan membawa Dreamland ke perbatasan karena begitu banyak songtheow yang siap membawa Dreamland dengan tarif 15 bath.





            Akhirnya setelah naik songtheow dan menempuh perjalanan 10 menit, Dreamland pun diberhentikan tepat di depan sebuah bangunan biru tinggi yang menjadi gedung imigrasi Thailand. Sebelum masuk ke perbatasan, Dreamland makan siang terlebih dahulu di sebuah tempat makan yang ada di Mae Sai. Di Mae Sai, begitu banyak penjual perhiasan bertebaran di sini, baik itu permata, berlian, kalung, dan lain sebagainya. Entah itu palsu atau tidak yang jelas semua benda tersebut berasal dari Myanmar. 





            Selain itu, banyak juga produk khas China yang bertebaran di sini dengan harga yang murah. Dengan 100 bath, kita bisa mendapatkan 8 bungkus makanan China dengan kemasan yang menarik. Mae Sai juga menjual suvenir berupa kaos, pajangan, dan lain sebagainya. Rupanya Mae Sai menjadi kawasan turis yang digunakan Thailand untuk meraup uang juga layaknya Phuket dan Bangkok. Menarik rasanya melihat keramaian kota Mae Sai dengan banyaknya money changer di sini.





            Setelah makan chicken rice di sebuah kedai, Dreamland pun membeli dan makan mangga potong yang sangat segar di pinggir jalan. Kemudian Dreamland langsung berjalan masuk menuju perbatasan Thailand yang ditandai dengan gedung biru tinggi. Sebagian besar yang melewati perbatasan adalah bule yang mungkin penasaran dengan apa yang ada di sisi Myanmar. Setelah lancar melewati perbatasan Thailand, kini giliran perbatasan Myanmar yang harus Dreamland lalui. Unik sekali rasanya melihat perbatasan darat Thailand – Myanmar yang hanya dipisahkan oleh sebuah jembatan saja.







            Dreamland pun langsung menuju pos imigrasi Myanmar dan terkejut dengan apa yang dilakukan petugas imigrasi di sana. Rupanya petugas imigrasi Myanmar harus dibayar dengan uang 500 bath, baru mengizinkan kita untuk masuk ke Taichilek. Selain itu, pakai acara ditanya-tanya mau ngapain dan hanya boleh jalan-jalan sekitar Taichilek saja. Peristiwa ini akan Dreamland bahas lebih lanjut dalam Dreamland Traveller Moment.







            Singkat kata, Dreamland akhirnya terpaksa membayar 500 bath dan duduk untuk difoto. Setelah itu, passport Dreamland ditahan dan diganti dengan kertas karton untuk mengambil passport kembali saat pulang dari Myanmar. Sesudah itu, Dreamland kembali berjalan melintasi sebuah gerbang tinggi penanda negara Myanmar dan akhirnya tiba juga di Taichilek. Sepintas tidak ada yang berbeda antara Mae Said an Taichilek melihat barang dagangan yang dijual juga hampir sama persis. Lucunya ada bule yang sama-sama masuk ke Taichilek langsung keluar kembali ke Mae Sai karena tidak betah dengan kondisi di Myanmar ini.







            Berhubung Dreamland buta arah dan tidak tahu mau ke mana saja di Taichilek, akhirnya Dreamland menyewa tuk-tuk untuk berkeliling tempat wisata menarik yang ada di Taichilek, Myanmar ini. Setelah tawar menawar harga, Dreamland pun akhirnya sepakat dan dibawa menuju sebuah kuil yang lumayan bagus di Myanmar ini. Setelah puas melihat dan berfoto-foto, selanjutnya Dreamland dibawa menuju ikon dari Myanmar itu sendiri, yakni Shwedagon Pagoda yang terletak di atas bukit.







            Kuil ini boleh dikatakan sangat megah dan eksotis. Warna kuning keemasannya seolah memancarkan cahaya bagi wilayah perbatasan Myanmar ini. Dari situs ini juga kita dapat melihat pemandangan Taichilek dari atas. Sangat menarik pokoknya. Setelah puas berada di kuil ini, Dreamland pun langsung menuju Township Dhammayon. Kali ini, kuil yang satu ini sama sekali tidak ada istimewa-istimewanya. Sangat standar jika dijadikan tempat wisata turis.







            Awalnya supir tuk-tuk menawarkan kunjungan ke Suku Karen yang terkenal dengan gelang dan leher panjangnya itu. Namun karena mendengar selentingan bahwa Taichilek bukan pusat tempat tinggal Suku Karen ini akhirnya Dreamland pun mengurungkan niat tersebut. Dreamland pun langsung diantar menuju ke perbatasan lagi. Sesudah sampai di perbatasan, Dreamland berjalan-jalan sejenak mengelilingi pertokoan yang ada di Taichilek.







            Begitu banyak rokok Myanmar yang dilabeli merek asing dijual di sini dengan harga murah. VCD bajakan, serta Viagra ditawarkan secara bebas di sini. Tak hanya itu, cakar harimau, awetan bagian tubuh binatang, dan kulit hewan pun dijual di pasar yang ada di Taichilek ini. Barang-barang branded palsu pun dijual dengan bebas, mulai dari Polo, Adidas, sampai tas-tasnya dengan merek ternama. Semua transaksi yang ada di perbatasan Myanmar ini menggunakan Thailand Bath (THB), sehingga tidak perlu menukar uang ke Myanmar Kyat. Berhubung tidak ada barang yang menarik di sini, Dreamland pun berjalan pulang kembali ke Mae Sai, Thailand.





            Di pos imigrasi Myanmar, passport Dreamland pun dikembalikan dengan utuh oleh petugas setelah menukarkan dengan kertas karton yang telah diberikan. Selanjutnya Dreamland berjalan menuju pos imigrasi Thailand di Mae Sai untuk mendapatkan cap masuk kembali ke Thailand. Di pos pemeriksaan Thailand, ada scanning barang bawaan, sehingga harus hati-hati jika membeli dalam kuantitas banyak atau ada barang terlarang. Sesampainya di Mae Sai, Dreamland pun kembali berjalan-jalan dan melihat-lihat belanjaan yang ada.


            Kemudian Dreamland pun beranjak menuju Wat Phra That Doi Wow atau Scorpion Temple yang terletak di sebelah kiri gedung imigrasi. Namun karena harus mendaki ratusan anak tangga ke atas dan sudah keburu capek, Dreamland pun mengurungkan untuk naik ke atas kuil ini. Selanjutnya, Dreamland pun berfoto dengan kuil-kuil yang dilewati dan membeli sejumlah suvenir sebelum akhirnya memutuskan kembali ke Chiang Rai.


            Dengan songtheow yang tersedia, Dreamland pun akhirnya tiba kembali di terminal bus Mae Sai. Melihat penumpang bus sangat sepi, Dreamland pun memutuskan untuk naik Green Bus yang jauh lebih nyaman sebagai kendaraan menuju Chiang Rai. Setelah penumpang Green Bus penuh, akhirnya sopir pun memberangkatkan kami semua. Tarif Green Bus dengan bus umum biasa ternyata hanya berbeda 8 bath saja!
            Sepanjang perjalanan dari Mae Sai menuju Chiang Rai, beberapa kali minivan Dreamland diberhentikan polisi untuk dicek identitas setiap penumpangnya. Dreamland harus mengeluarkan passport dan penumpang Thai lain mengeluarkan KTP mereka masing-masing. Rupanya langkah ini dilakukan agar tidak banyak imigran Myanmar yang pindah ke Thailand dengan tingkat kesejahteraan yang lebih baik. Penjagaan di wilayah perbatasan ini sangatlah ketat dilakukan oleh polisi. Dreamland akan ceritakan lebih lanjut dalam Dreamland Traveller Moment.
            Sesudah melalui perjalanan kembali selama 1,5 jam, akhirnya Dreamland tiba di terminal bus Chiang Rai. Rupanya terminal bus lama Chiang Rai juga terletak di sebelah Night Market. Akhirnya, Dreamland pun memutuskan untuk melihat dan berjalan-jalan di pasar malam ini untuk membeli sejumlah oleh-oleh. Sebagian besar penjual di sini menjual kaos oleh-oleh Chiang Rai. Ada juga yang menjual pajangan, tas, suvenir, dan lain sebagainya. Tak ketinggalan adanya food court besar yang dilengkapi dengan pertunjukan kebudayaan Lanna setiap malamnya.
            Dreamland pun memutuskan untuk mencoba kudapan khas Chiang Rai, di mana terdapat sup yang dimasak dengan tungku api tradisional dengan sayur-sayuran dan telur. Rasa kuahnya sangat manis dan tidak cocok dengan selera Dreamland. Setelah makan malam usai, Dreamland pun akhirnya memutuskan untuk pulang kembali ke hotel. Setelah berjalan melalui pertokoan demi pertokoan yang sudah mulai tutup, akhirnya Dreamland tiba juga di B2 Night Bazaar Chiang Rai Hotel.
            Senang sekali rasanya masuk ke negara Myanmar via Taichilek dengan berbagai kejutan dan pengalaman yang ada didalamnya. Dreamland tak sabar rasanya menantikan petualangan esok yang lebih seru dalam menjelajahi perbatasan Laos.

Chiang Rai, Mae Sai, Thailand, Taichilek, Myanmar, 11 Juni 2013

Dreamland Traveller

Catatan:
- Mae Sai dapat diakses, baik dari Chiang Mai maupun Chiang Rai via bus.
- Frekuensi bus dari Chiang Rai menuju Mae Sai lebih sering dibandingkan dengan Chiang Mai.
- Siapkan dokumen perjalanan yang lengkap saat melintasi perbatasan Thailand – Myanmar di Mae Sai dan Taichilek agar tidak menemukan kendala yang berarti.
- Pastikan untuk paham dengan betul perhiasan sebelum membeli di Mae Sai atau Taichilek agar tidak menyesal apakah perhiasan tersebut palsu atau tidak.
- Terdapat tuk-tuk yang akan membawa kita dari terminal bus menuju perbatasan dengan songtheow yang tersedia dengan harga 15 bath sekali jalan.
- Jika tidak ingin menambah cap atau betul-betul penasaran dengan Taichilek, disarankan untuk TIDAK masuk ke Myanmar karena harus membayar 500 bath yang tidak sebanding dengan apa yang kita dapatkan di Taichilek.

~ oOo ~

2 comments:

  1. apa boleh ke swedagon dr taichilek? bukannya hy boleh di skitaran taichilek aja?

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Velly Pricilya : Jika yang dimaksud Shwedagon Pagoda di Yangon tentu tidak boleh karena visa Thachilek seharga 500 THB itu hanya memperbolehkan kita wisata di Thachilek saja. Tapi dalam tulisan di atas, Shwedagon Pagoda yang Dreamland kunjungi ada di Thachilek, sehingga boleh dikunjungi. Semoga memperjelas infomasi di atas ya.

      Delete

Terima kasih dan selamat datang di Dreamland Traveller! Komentar, saran, dan pertanyaan dapat dituliskan pada kolom komentar di bawah ini.